Alasan Dosen ...

Alasan Dosen Pengennya Diskusi Mulu Dibanding Ngajar

5 1339

katamiqhnur.com | Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuuh..

Biasanya kita yang ngakunya anak muda kece tuh paling seneng banget kalo dosen nggak masuk kelas dengan catatan di pertemuan berikutnya bakal ada diskusi. Nah, pas dosen ngomong gitu, yang paling senang banget pasti adalah kaum pria dan paling stres adalah kaum perempuan. Kenapa? Ialah, secara kaum perempuan kan yang ngerjain tugasnya bukan kaum pria. Menurut pengalaman MiQHNuR sih seperti itu, tapi ya terkadang ada juga sih beberapa perempuan yang sifatnya agak pemalas dan ada juga beberapa pria yang sifatnya rajin, contoh dekatnya ya saya sendiri, hehehe.. biasanya MiQHNuR tuh yang dapat tugas untuk ngebuat PowerPoint, tapi terkadang juga MiQHNuR diberi hukuman sama teman kelompok untuk presentasi di depan kelas karena nggak ngebuat apapun. Hehehe..

Baca juga: Kata-kata Yang Sering Digunain Saat Diskusi

Oke.. oke.. tapi sekarang kamu pasti bertanya-tanya, kenapa sih dosen ngelakuin hal yang kayak gitu? Maksudnya paling suka untuk ngelakuin diskusi dibanding ngajar kayak biasanya. Nah, untuk lebih jelasnya dengan fenomena ini, sebaiknya kamu perhatikan deh alasan-alasannya di bawah ini!!

  1. Katanya, diskusi lebih cerdas dan interaktif

Ini nih alasan ampuh dari para dosen sehingga lebih memilih diskusi saja dibanding dia ngajar di depan kelas. Alasan ini diambil karena disinyalir *ngomong dengan gaya reporter* dapat merangsang setiap anggota kelas supaya dapat berbicara mengutarakan pendapatnya. Kenapa? Karena diskusi itu dinilai dari cara kita ngomong, nah, kalo nggak ngomong berarti nggak bakal dapet nilai kan? sebenarnya alasan yang satu ini, kalo dipikir-pikir lagi ada betulnya juga. Dengan kita ngomong untuk mengutarakan  pendapat kita artinya kita melatih kepribadian kita untuk bicara di depan publik, Rights?

  1. Dosen Males Ngajar

MiQHNuR bilang, alasan ini adalah 100% kesalahan dari dosen. Nah, seharusnya dosen yang kayak gini nih yang harusnya di keluarin dari kampus, kalo perlu di usir dari Indonesia, di asingin aja ke Liberia, supaya nanti terinfeksi Ebola. Iya, dosen yang males seperti ini otomatis mengajarkan kita pemuda Indonesia budaya yang salah, iya kan? kejadiannya, hari ini diskusi, Minggu depan diskusi, 2 Minggu depan diskusi, dst. Gimana mahasiswa nggak bakalan bosan kan?

  1. Dosen Yang Nggak Siap Ngajar

Kalo jadi dosen tuh, seharusnya siap mendidik para mahasiswa. Harus siap melayani, karena MiQHNuR yakin pada diri setiap dosen pasti sudah didoktrin untuk memberi ilmu kepada setiap mahasiswa tanpa pandang BULU, BULU apa tuh? Oke nggak usah dipikirin. Jadi kalo masih ada dosen yang nggak siap buat ngajar berarti bukan dosen donk namanya. Memang sih, diskusi termasuk salah satu teknik mengajar, tapi kalo setiap jadwal mata kuliah tekniknya diskusi mulu kan nggak dapet, kita sebagai mahasiswa juga bosen kan? hmmf..

  1. Dosen Nggak Tahu Apa-apa

Untuk alasan yang satu ini udah kelewatan banget, untuk apa jadi dosen kalo nggk tahu apa-apa, nggak nguasain materi yang seharusnya dikuasai. Alasan yang satu ini juga sudah pasti akan merangkul alasan-alasan yang ada diatas, dosen males ngajar salah satu penyebabnya karena nggak tahu apa-apa, Rights? Dosen nggak yang siap ngajar salah satu penyebabnya juga karena nggak tahu apa-apa, Rights? Pak/Bu dosen, ini nih ada sedikit ilustrasi untuk anda…

“Assalamualaikum anak-anak, selamat pagi” sapa seorang dosen ketika masuk kelas.

“Se.. selamat pagi pak..” para mahasiswa langsung lari menuju ke kursinya masing-masing, wajarlah kan nggak semua mahasiswa un-labil, ada sebagian mahasiswa yang masih labil, yang kerjanya ngegalau ria di sudut kelas karena isolasi sosial, ada yang pacaran di dalem kelas karena semalem nggak sempat ngapel, bahkan ada yang masih main kelereng, pake taruhan lagi.

“Duduknya yang manis donk!! Anak-anak hari ini kita bakal diskusi yaa, dengan tema ‘budaya jomblo’ Jadi bapak harapkan kalian membagi diri kalian menjadi dua bagian. Okay”

“Hah. appah? Membagi diri menjadi dua bagian? Maksudnya apa sih, pak? Kalo ngomong yang benar donk!!” balas seorang gengster kelas yang tak lain adalah Nonu, kalo masih jaman SD yang kayak gini istilahnya penguasa kelas, tapi bukan ketua kelas.

“Maksudnya kalian buat 2 kelompok, hitung dari sini sampai ke belakang 1 sampai 2” jawab dosen itu.

“Appah? Maksudnya? Pak, kita kan jumlahnya 30 orang, masa dari depan ke belakang hitungnya sampe dua, bapak punya pikiran nggak seh?” balas Nonu sekejap. Dari jawaban Nonu ini entah siapa yang salah, dosen yang nggak bisa menjelaskan sesuatu atau memang daya pikir Nonu yang memang di bawah standar.

“Nonu, sebelumnya kamu pernah diskusi belum? Masa nggak ngerti, maksudnya hitung, 1 2, 1 2, 1 2, gitu (sambil nunjuk-nunjukin para mahasiswanya satu/satu). Kelompok satu membahas tentang budaya jomblo akut dan kelompok dua membahas tentang budaya jomblo kronik, mengerti?”

“iya, pak” pasrah seluruh member kelas.

“sekarang kalian saya tinggal diskusi ya, saya ada urusan yang nggak kalah pentingnya dengan kegiatan ini. kalian diskusi mandiri, nanti ada observer yang merhatiin dan nyatat jalannya diskusi. Observernya saya tunjuk ya, Nona apa kamu bisa menjadi observer di diskusi hari ini?”

“I.. iya pak” jawab Nona.

“saya tinggal dulu ya. Assalamualaikum..”

Setelah ditinggal oleh sang dosen, Nonu kemudian langsung mengancam Nona supaya diskusi dibatelin dan karena seluruh teman sekelas setuju jadi Nona nggak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia diselimuti oleh rasa takut, karena nanti dia yang harus mempertanggungjawabkan nanti..

“Nonu, trus nanti kalo bapak nanyain tentang jalannya diskusi gimana? Apa yang harus aku jawab ke bapak nanti. Pokoknya kamu yang harus ngejawab!!”

“Ooh, itu masalah gampang. Bilang aja udah terjadi gempa, trus karena ketakutan kita semua lari keluar, dan akhirnya diskusi nggak jadi deh. Gampang kan?” balas Nonu dengan santai.

“Nonu kamu nggak ngerti perasaan aku ya. Yang bakal diminta tanggung jawab itu aku bukan kamu. Pokoknya kamu yang tanggung jawab, ingat! Pake alasan yang logis!!!” kemudian Nona lari dengan tetesan air mata.

“Nona, tungguuu…”

Singkat cerita, akhirnya hari pertanggungjawaban Nonu telah tiba. Jam demi jam berlalu dengan keheningan, semua member kelas harap-harap cemas dengan kedatangan pak dosen. Tiba-tiba hp Nona berbunyi, dia langsung melihat notifikasi dari sms itu. ternyata itu dari pak Dosen. Dia kemudian membaca isi sms itu, daan…

“Nona, sampaikan ke teman-teman bapak belum bisa masuk, tolong lanjutkan diskusi kemarin ya!” itulah isi dari sms pak dosen. Kemudian Nona memberitahukan isi sms itu kepada teman-temannya.

“Yuuuhhuuuyy… yes!!!” teriak mereka lantang. Lagi-lagi diskusi hari itu batal karena ulah Nonu. Trus di Minggu-minggu berikutnya pun sama, tidak jadi diskusi, karena kebetulan pak dosen tidak masuk.

6 bulan pun berlalu dengan sekejap. Semua hasil UAS gagal, tak ada satu pun yang lulus termasuk Nona yang paling pintar di kelas. Akibat kegagalan itu, Nona dimarahi oleh orang tuanya. Nona menjelaskan kenapa dia sampai nggak lulus, setelah mengetahui itu, orang tua Nona menuntut ke pihak kampus atas kelakuan dari dosen yang tak bertanggung jawab itu. pendek cerita, dosen itu pun dipecat.

Dari sudut pandang lain, ternyata sang dosen tidak masuk kelas karena dia belum mengerti dengan materi yang nanti akan dibahas. Dia takut nanti akan ada mahasiswa yang nanya gini:

“Pak, kenapa seorang jomblo selalu mengatasnamakan ‘cinta itu tak harus memiliki’ padahal kan sesuatu hal yang ada di dunia ini memiliki pasangan masing-masing. Kenapa sang jomblo lebih memilih sendiri?” Atau bisa jadi ada mahasiswa kritis trus nanyain kasus kayak gini:

“Pak, kalo misal ada seorang jomblo wafat. Trus hasil otopsi mengatakan jomblo itu meninggal karena kangen pada seseorang, hasil itu juga didukung oleh beberapa bukti salah satunya adalah didapati foto-foto yang menghiasi dinding-dinding kosan si jomblo. Trus orang yang dikangenin oleh si  jomblo itu mengetahuinya, ternyata sebenarnya dia juga mencintai sang jomblo. Nah, dari kasus ini timbul pertanyaan, siapakah nama presiden Zimbabwe??” dari kronologis cerita di atas dosen mana sih yang sanggup menjawab pertanyaan sulit diatas? Ada? Siapa coba? Hahaha…

****

Ehem, itulah beberapa alasan dosen sehingga maunya diskusi mulu dibanding dia ngajar. Dari kamu sendiri guys, apa ada alasan-alasan lain selain alasan-alasan yang udah MiQHNuR cantumin diatas? Kalo ada di share di Comment Box yaa..

Okay… thanks for reading ya guys, see you next post and bye-bye…

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuuh..

Akrab disapa MiQHNuR, Iqbal ato nggak Prof... Masih berstatus sebagai Mahasiswa Imajinatif dan Jomblo Fluktuatif. Nggak bisa hidup tanpa mikir dan ngayal, suka banget ngomong ama laptop. Pengen membahagiakan Keluarga dan semua orang termasuk para jomblo-jomblo :P Biasanya nge-tweet di @KataMiQHNuR..
  • 2 3 4
    hal serupa juga kami alami dahulu, rupanya tidak hanya kami.
    kesal juga dibuatnya apabila bersua dengan dosen serupa ini

  • Apapun alaannya,
    siap atau tidak, paham atau tidak
    Diskusi memang lebih baik (multi arah)dari ngajar (satu arah).

    itu jawaban temen saya yang jomblo sih..
    hhe

  • Lumayan gan artikelnya…
    ternyata ada “sesuatu” dibalik diskusi dosen…